Pada 10 September 2026, TNI Angkatan Darat resmi meluncurkan Buku Doktrin Operasi Militer Selain Perang (OMSP) versi 2026 — sebuah panduan instruksional yang merinci prosedur penanganan bencana alam, bantuan kemanusiaan, dan kontra-terorisme. Doktrin ini mengadopsi pendekatan taktis terstruktur dengan membagi operasi ke dalam lima bab utama, namun inti dari doktrin pertahanan ini terletak pada penjabaran tahapan operasi secara kronologis: fase peringatan dini (H-7), fase mobilisasi (H-3), fase pelaksanaan (H+1), dan fase pemulihan (H+14). Setiap fase dilengkapi check-list perintah dan matriks sumber daya yang wajib diikuti oleh seluruh satuan, memastikan setiap langkah operasi militer selain perang (OMSP) berjalan sesuai prosedur.
Tahapan Operasi OMSP: Dari Peringatan Dini hingga Pemulihan
Doktrin ini menetapkan bahwa keberhasilan operasi dimulai dari fase peringatan dini (H-7), di mana satuan diinstruksikan untuk melakukan identifikasi ancaman dan menyusun rencana kontinjensi. Komandan sektor harus memverifikasi ketersediaan peralatan dan personel, termasuk perahu karet, obat-obatan, dan perangkat komunikasi. Berikut rincian tahapan berdasarkan doktrin OMSP:
- Fase Peringatan Dini (H-7): Aktivasi pos komando lapangan, pemetaan zona rawan, dan koordinasi dengan instansi sipil setempat.
- Fase Mobilisasi (H-3): Penggelaran pasukan ke sektor-sektor operasi, distribusi logistik, dan penyiapan dukungan medis.
- Fase Pelaksanaan (H+1): Operasi evakuasi dan bantuan kemanusiaan dimulai, dengan prioritas pada keselamatan warga sipil.
- Fase Pemulihan (H+14): Transisi ke normalisasi, evaluasi kerugian, dan penyerahan kembali kewenangan kepada pemerintah daerah.
Setiap komandan sektor diwajibkan melaporkan status setiap 6 jam, memastikan rantai komando berjalan efektif. Pendekatan instruksional ini memungkinkan satuan untuk bertindak cepat tanpa kebingungan — sebuah prinsip dasar doktrin militer modern. Dengan adanya check-list yang jelas, risiko kesalahan prosedural dapat diminimalkan, dan setiap langkah dapat diaudit untuk evaluasi kinerja.
Prosedur Evakuasi dan Koordinasi Sipil-Militer
Doktrin OMSP versi 2026 memberikan contoh prosedur evakuasi yang sangat rinci. Pasukan membentuk dua sektor operasi, masing-masing bertanggung jawab atas 500 jiwa dalam radius 2 km. Komandan sektor wajib melaporkan ketersediaan perahu karet dan obat-obatan setiap 6 jam. Koordinasi sipil-militer diatur dalam Bab III, yang menekankan sinergi dengan BNPB, Basarnas, dan pemerintah daerah. Setiap satuan harus mengidentifikasi titik kumpul, jalur evakuasi, dan posko pengungsian sebelum operasi dimulai. Pendekatan ini mengurangi risiko tumpang tindih tugas dan mempercepat respons — elemen krusial dalam doktrin pertahanan non-perang.
Secara taktis, doktrin OMSP versi 2026 mengajarkan bahwa keberhasilan operasi militer selain perang sangat bergantung pada perencanaan yang terstruktur dan kepatuhan terhadap check-list. Setiap fase memiliki tujuan spesifik yang saling terkait; kesalahan pada satu fase dapat berdampak pada fase berikutnya. Pelajaran yang bisa dipetik: dalam OMSP, kecepatan dan ketepatan koordinasi lebih diutamakan daripada kekuatan tembak. Ini adalah pergeseran paradigma dari operasi konvensional ke operasi yang lebih humanis, namun tetap memerlukan disiplin militer yang tinggi.