Sketsa Taktis
Memahami Strategi, Membangun Kekuatan Bangsa
DOKTRIN

Doktrin Baru TNI AU: Penggunaan Drone dalam Close Air Support

Doktrin baru TNI AU mengintegrasikan drone CH-4 dan Elang Hitam dalam close air support dengan prosedur yang dimulai dari penandaan target oleh FAC darat, pengintaian vertikal, hingga peluncuran munisi presisi. Setiap serangan diikuti dengan ceasefire check untuk meminimalkan risiko kesalahan. Latihan penerapan akan dilakukan September 2026 di Lanud Iswahjudi dengan skenario tempur perkotaan.

Doktrin Baru TNI AU: Penggunaan Drone dalam Close Air Support

Sketsa-Taktis, Jakarta — TNI AU resmi merilis doktrin baru yang mengintegrasikan drone tempur CH-4 dan Elang Hitam dalam peran close air support (CAS). Doktrin ini, yang tertuang dalam Buku Petunjuk Operasi Udara No. 5/2026, mengubah prosedur tradisional CAS dengan menempatkan drone sebagai ujung tombak serangan presisi. Langkah pertama dimulai dengan Forward Air Controller (FAC) darat yang bertugas menandai target sasaran menggunakan sinar laser. Setelah penandaan, drone segera melakukan pengintaian vertikal dari ketinggian aman untuk memastikan area target bebas dari warga sipil. Tahap verifikasi ini adalah langkah krusial untuk meminimalkan risiko kesalahan sasaran. Setelah dipastikan aman, drone meluncurkan munisi presisi berupa bom berpemandu GPS atau rudal AGM-114 Hellfire yang ditembakkan dari ketinggian operasional. Setiap serangan kemudian diikuti dengan prosedur ceasefire check untuk melakukan evaluasi dampak dan memastikan tidak ada korban tambahan. Latihan penerapan doktrin ini akan digelar pada September 2026 di Lanud Iswahjudi.

Tahapan Eksekusi: Dari Penandaan Laser hingga Verifikasi

Prosedur di balik doktrin ini disusun secara terstruktur untuk menjaga efektivitas dan keamanan operasi. Berikut adalah tahapan teknis yang diatur dalam doktrin baru:

  • Penandaan Target oleh FAC: Forward Air Controller darat menggunakan laser pointer untuk menandai koordinat target. Proses ini dilakukan dari jarak aman dengan komunikasi terenkripsi ke pusat kendali drone.
  • Pengintaian Vertikal oleh Drone: Drone CH-4 atau Elang Hitam melakukan manuver pengintaian vertikal dari ketinggian 15.000–20.000 kaki. Kamera EO/IR dan radar SAR digunakan untuk memindai area target selama 10–15 menit guna mengonfirmasi tidak ada keberadaan non-kombatan.
  • Peluncuran Munisi Presisi: Setelah verifikasi, drone meluncurkan bom GPS GBU-12 atau rudal AGM-114 Hellfire. Target dipastikan berada dalam jangkauan dan kondisi cuaca mendukung.
  • Prosedur Ceasefire Check: Setiap serangan diikuti dengan jeda 5–10 menit untuk melakukan evaluasi dampak. Drone kembali melakukan pengintaian untuk memastikan target hancur dan tidak ada korban di luar sasaran.

Doktrin ini juga mengatur penggunaan dua jenis drone yang berbeda: CH-4 untuk serangan jarak sedang (radius 200 km) dan Elang Hitam untuk serangan jarak jauh (radius 500 km). Keduanya dilengkapi dengan sistem friend or foe (IFF) untuk menghindari tembakan terhadap pasukan sendiri. Latihan simulasi akan menggunakan skenario tempur perkotaan untuk menguji respons terhadap target bergerak.

Implikasi Taktis dan Persiapan Latihan

Integrasi drone dalam CAS mengubah siklus serangan dari yang biasanya membutuhkan waktu 20–30 menit menjadi 10–15 menit berkat pengintaian langsung tanpa perlu panggilan balik. Prosedur ceasefire check menjadi fitur kritis untuk menghindari kesalahan fatal, terutama dalam operasi di daerah padat penduduk. Latihan September 2026 di Lanud Iswahjudi akan melibatkan dua skuadron drone dan satu tim FAC dari Kopasgat. Skenario latihan mencakup serangan terhadap bunker, kendaraan musuh, dan posisi sniper dengan waktu respons di bawah lima menit.

Pelajaran taktis yang bisa dipetik: dalam medan perang modern, kecepatan verifikasi target menjadi kunci keberhasilan CAS. Drone memungkinkan pengintaian vertikal yang lebih aman dibandingkan pesawat berawak, namun prosedur ceasefire check tetap diperlukan untuk menjaga presisi. Kombinasi antara drone dan FAC darat menciptakan rantai komando yang lebih efisien, meskipun membutuhkan latihan intensif untuk menyelaraskan komunikasi. Doktrin ini membuktikan bahwa TNI AU tidak hanya mengadopsi teknologi, tetapi juga membangun prosedur operasi yang matang untuk memaksimalkan potensi drone dalam close air support.

ENTITAS TERDETEKSI
Organisasi: TNI AU
Lokasi: Lanud Iswahjudi