Exercise Trident Resolve 2026 di Pantai Mandalika, Anyer, Banten, menggelar demonstrasi skenario penanganan bencana gempa bumi berkekuatan 8,8 SR yang diikuti tsunami. Skema ini dirancang sebagai uji interoperabilitas multinasional dalam HADR (Humanitarian Assistance and Disaster Relief) skala besar. Fokus utama demonstrasi adalah prosedur SAR Multinasional yang terintegrasi, dari pencarian korban di perairan hingga Penanganan Medis lanjutan oleh tim gabungan. Artikel ini akan mengupas secara instruksional tiga fase operasi penyelamatan yang diperagakan, lengkap dengan detail taktis setiap tahapan.
Fase 1: Pengerahan Tim SAR Gabungan dan Teknik Evakuasi Perairan
Fase pertama operasi dimulai dengan pengerahan tim SAR gabungan dari TNI, Basarnas, dan Tagana. Mereka melakukan pencarian korban di perairan menggunakan rubber boat dengan formasi menyisir area terdampak tsunami. Dua korban berhasil ditemukan dalam kondisi berbeda: korban pertama mengalami hipotermia akibat terpapar air dingin dalam waktu lama, sedangkan korban kedua dalam kondisi meninggal dunia. Prosedur penyelamatan korban hidup diterapkan dengan teknik evakuasi aman dari perairan berombak, yang meliputi:
- Pendekatan perahu dari arah berlawanan arus untuk menghindari tubrukan.
- Penggunaan tali pengaman dan body sling untuk mengangkat korban ke atas rubber boat.
- Stabilisasi posisi korban di atas perahu untuk mencegah cedera tambahan selama perjalanan ke darat.
- Komunikasi radio terpadu antar unsur SAR untuk memastikan koordinasi waktu evakuasi.
Teknik ini mengedepankan keselamatan personel penyelamat dan korban di medan yang dinamis. Pasca evakuasi ke darat, korban langsung diserahkan ke posko medis untuk penanganan tahap kedua.
Fase 2 dan 3: Penanganan Medis Multinasional hingga Identifikasi Forensik
Pada tahap kedua, korban hidup diserahkan kepada Multinational Medical Disaster Team yang terdiri dari personel medis Amerika Serikat, Singapura, Brunei, Filipina, Thailand, dan negara peserta lainnya. Tim ini menerapkan protokol standar internasional untuk Penanganan Medis di lokasi kejadian. Korban hipotermia menjalani prosedur stabilisasi suhu tubuh menggunakan selimut termal dan cairan infus hangat, dilanjutkan pemeriksaan tanda vital (vital sign) serta persiapan evakuasi menuju rumah sakit melalui sistem rujukan terkoordinasi. Tahap ini menguji kemampuan tim medis lintas negara dalam berbagi peran dan peralatan secara sinkron.
Fase ketiga menangani korban meninggal melalui proses Disaster Victim Identification (DVI) untuk identifikasi forensik. Petugas melakukan dokumentasi, pengambilan sidik jari, serta pengumpulan data ante-mortem dan post-mortem sesuai standar Interpol. Demonstrasi ini membuktikan bahwa prosedur DVI dapat dijalankan secara multinasional tanpa menghilangkan rantai bukti. Keseluruhan skema dari pencarian, penyelamatan, evakuasi, Penanganan Medis, hingga identifikasi korban menunjukkan keterpaduan respons yang teruji dalam Exercise Trident Resolve.
Analisis Taktis: Keberhasilan operasi HADR berskala besar seperti simulasi tsunami ini sangat bergantung pada standardisasi prosedur, interoperabilitas komunikasi, dan pembagian peran yang jelas antara unsur militer dan sipil. Latihan bersama seperti Trident Resolve 2026 mengonfirmasi bahwa doktrin SAR multinasional perlu terus disempurnakan, terutama dalam hal kecepatan transfer korban dari fase penyelamatan ke fase medis. Bagi penggemar militer, pelajaran berharga adalah pentingnya latihan integrasi taktis lintas negara — bukan hanya sekadar seremonial, melainkan uji nyata kesiapan operasi di lapangan.