Dalam latihan Direct Action yang digelar di lingkungan perkotaan simulasi, Satuan 81/Kopassus (Gultor)—yang lebih dikenal dengan julukan Sat-81 Gultor—kembali menunjukkan standar tertinggi prosedur Breaching dan Clearing gedung. Operasi Urban Warfare ini menuntut kecepatan, presisi, dan kekerasan tindakan (violence of action) sebagai prinsip utama. Tidak ada ruang untuk keraguan; setiap detik menentukan hidup-mati personel maupun sandera. Mari kita bedah tahapan demi tahapan taktik yang diterapkan, mulai dari persiapan medan tempur hingga pembersihan ruangan.
Tahap Persiapan: Membaca Medan Tempur dan Formasi Stack
Sebelum satu tembakan dilepaskan, tim melakukan Preparation of the Battlefield (POB) dengan reconnaissance terbatas. Tujuan rekon ini adalah mengidentifikasi titik masuk, struktur bangunan, dan kemungkinan posisi musuh. Informasi ini menjadi dasar penyusunan formasi stack di luar titik breaching. Urutan formasi sangat kritis:
- Point Man – Penembak jitu yang pertama kali mengamati dan mengarahkan.
- Breacher – Ahli pembuka akses, bertanggung jawab masuk pertama.
- Cover Man – Memberikan perlindungan tembakan saat breaching dan entry.
- Rear Security – Mengamankan belakang tim dan mencegah penyergapan dari arah berlawanan.
Setiap personel sudah hafal perannya dalam CQC (Close Quarters Combat). Tanpa komunikasi verbal yang berlebihan, mereka bergerak seperti satu kesatuan.
Teknik Breaching dan Metode Entry
Setelah formasi siap, tiba saatnya Breaching—pembukaan paksa akses masuk. Ada tiga teknik yang dilatih:
- Mechanical – Menggunakan battering ram atau halligan tool untuk mendobrak pintu secara fisik.
- Ballistic – Menembak engsel pintu dengan shotgun breaching round agar daun pintu lepas.
- Explosive – Menggunakan charge berdaya rendah untuk menghancurkan kunci atau mekanisme pengunci tanpa merusak struktur berlebihan.
Pilihan teknik bergantung pada jenis pintu, tingkat kebisingan yang diizinkan, dan kecepatan yang dibutuhkan. Setelah titik masuk terbuka, tim melakukan immediate entry dengan dua teknik utama: buttonhook (belokan tajam ke kanan/kiri) atau cross cover (silang-menyilang untuk mengamankan sudut). Point man langsung mengambil sudut pertamanya (clear his corner), diikuti anggota lain yang membersihkan sudut berlawanan. Komunikasi visual dan verbal minimal digunakan untuk menyatakan ruangan "clear".
Prosedur clearing berlanjut secara metodikal dari ruang ke ruang menggunakan sistem numbering atau clock method untuk mengkover semua area. Tim juga berlatih menghadapi situasi rumit seperti adanya non-combatant (sandera) dan immediate action drill saat terjadi friendly fire atau anggota tim terluka (casualty evacuation drill). Semua ini menjadi bagian dari Direct Action yang terintegrasi.
Pelajaran taktis yang bisa dipetik: Urban Warfare bukan sekadar menembak dan bergerak. Breaching yang tepat, formasi stack yang disiplin, serta clearing yang sistematis adalah kunci keberhasilan. Sat-81 Gultor menunjukkan bahwa penguasaan CQC dan violence of action harus diimbangi dengan prosedur yang otomatis dan latihan tanpa henti. Dalam operasi nyata, tidak ada detik kedua untuk memperbaiki kesalahan.