Denjaka menjadikan operasi Penyelamatan Sandera di atas Kapal sebagai salah satu domain kompetensi intinya, yang dijalankan melalui prosedur taktis baku bernama VBSS (Visit, Board, Search, and Seizure). Prosedur ini bukan sekadar pendakian ke geladak, melainkan sebuah rangkaian manuver terstruktur yang memadukan pendekatan diam-diam, penguasaan kritis, dan penyisiran agresif, dengan puncaknya adalah penerapan taktik CQB atau Close Quarter Battle di ruang-ruang sempit kapal. Tahapannya dirancang untuk meminimalkan risiko pada sandera dan personel, sekaligus memaksimalkan kejutan dan kecepatan dalam menetralisir ancaman.
Tahap Pendekatan dan Insersi: Memanfaatkan Titik Buta Kapal
Operasi dimulai jauh sebelum tim menyentuh lambung kapal target. Fase Approach and Insertion bertujuan untuk menempatkan tim penyelamat sedekat mungkin dengan kapal tanpa terdeteksi. Denjaka umumnya menggunakan dua metode utama: pendekatan laut dengan kapal cepat khusus yang bermanuver di area blind spot kapal (biasanya buritan atau sisi yang terlindung dari pengawasan di geladak utama), atau insersi udara via helikopter. Dari laut, personel pertama akan memanjat menggunakan grapnel hook dan tali, lalu segera memasang rope ladder atau caving ladder untuk akses tim utama. Jika dari udara, teknik fast-rope digunakan untuk menurunkan personel secara cepat ke titik yang telah ditentukan. Prinsip kuncinya adalah: insersi harus terjadi di area yang memberikan kejutan taktis dan meminimalkan paparan terhadap pengamatan musuh.
Penguasaan Geladak dan Penyisiran Interior: Dinamika Tim dan Formasi Tempur
Setelah mendarat di geladak, fase paling kritis dimulai: Boarding and Securing. Tim langsung terbagi dalam dua elemen dengan fungsi berbeda. Security Team bertugas mengamankan perimeter luar, titik-titik akses seperti tangga ke geladak bawah, serta lorong-lorong utama untuk mencegah pelarian atau serangan balik. Sementara itu, Entry Team bergerak masuk ke interior kapal. Gerakan mereka mengikuti doktrin formasi 'bounding overwatch', dimana satu elemen kecil bergerak maju (bounding) sementara elemen lain memberikan pengawasan dan perlindungan senjata (overwatch). Taktik ini diterapkan secara ketat saat membersihkan koridor (clearing corridor) dan ruangan (compartment). Penyisiran biasanya dimulai dari area paling kritis dan berisiko tinggi, seperti ruang mesin (engine room) di bagian bawah, kemudian secara sistematis bergerak ke atas menuju anjungan (bridge).
Fase berikutnya, Search and Clear, adalah penerapan murni taktik CQB dalam lingkungan yang sangat kompleks. Setiap ruangan harus dibersihkan dan diperiksa untuk menemukan sandera dan mengidentifikasi pelaku. Teknik utama yang digunakan adalah 'slicing the pie'. Personel tidak akan langsung menerobos masuk, melainkan membuka sudut pandang secara bertahap dari balik pintu dengan melakukan irisan-irisan kecil (slice), membersihkan setiap sudut mati sebelum bergerak maju. Semua titik choke point seperti percabangan lorong, pintu, dan tangga diawasi ketat oleh elemen keamanan. Koordinasi tim dilakukan melalui isyarat tangan dan komunikasi radio minimal untuk menjaga unsur keheningan dan kejutan.
Operasi VBSS oleh Denjaka mengajarkan satu pelajaran taktis mendasar: keberhasilan tidak ditentukan oleh baku tembak, tetapi oleh penguasaan prosedur dan disiplin tim. Setiap langkah, dari pendakian diam-diam hingga penyisiran ruangan, dirancang untuk mengendalikan lingkungan dan memaksa lawan bereaksi pada waktu dan tempat yang kita tentukan. Kecepatan, kejutan, dan kekerasan tindakan yang terukur (controlled aggression) menjadi kunci dalam operasi yang penuh tekanan ini, dimana perbedaan antara sandera dan pelaku harus ditentukan dalam sepersekian detik.