Latihan Tactical Ground Operation (TGO) Strike and Raid Operations FTX yang melibatkan 49 personel Special Operations Forces (SOF) dari Indonesia (Bravo, Taifib, Gultor), Amerika Serikat, dan Jepang di Puslatpur TNI AD Martapura, Sumatera Selatan, menjadi ajang unjuk kemampuan taktis antarpasukan khusus. Fokus utama latihan ini adalah menguji skema manuver hammer and anvil—sebuah taktik pengepungan klasik yang membutuhkan koordinasi ketat antara tim penyerang depan dan tim penjepit samping. Dengan memahami alur operasi mulai dari perencanaan hingga eksekusi, kita bisa memetik pelajaran berharga tentang bagaimana pasukan dari tiga negara menyelaraskan prosedur tempur mereka dalam satu kerangka operasi.
Tahap Perencanaan dan Insertion: Membangun Landasan Operasi
Setiap operasi taktis dimulai dengan Intelligence Preparation of the Battlefield (IPB). Dalam latihan ini, tim reconnaissance dikerahkan untuk mengumpulkan data target menggunakan drone surveillance dan patroli mata-mata. Hasilnya dirangkum dalam peta ancaman dan rencana serangan terperinci. Setelah IPB selesai, tahap insertion dilakukan melalui helikopter dengan dua opsi: fast-rope atau pendaratan di landing zone (LZ) yang telah diamankan lebih dulu oleh advance team. Prosedur ini memastikan pendaratan pasukan berlangsung aman dan terkendali.
- IPB: menggunakan drone dan patroli untuk pemetaan ancaman.
- Insertion: fast-rope atau LZ diamankan advance team.
- Formasi gerak: bounding overwatch dengan interval 20 meter antarpersonel.
- Penyesuaian SOP: semua standar prosedur nasional diselaraskan selama briefing pra-latihan.
Setelah mendarat, tim bergerak menuju area operasi menggunakan formasi bounding overwatch dengan jarak antar personel 20 meter. Setiap personel dari masing-masing negara telah menyelaraskan standard operating procedure (SOP) mereka selama sesi briefing bersama. Langkah ini krusial untuk menjaga kecepatan dan keamanan pergerakan dalam medan yang kompleks.
Eksekusi Strike dan Raid: Sinkronisasi Antarpasukan
Skenario strike di latihan ini menggunakan taktik hammer and anvil. Satu tim berperan sebagai hammer yang melancarkan serangan frontal sebagai pengalih perhatian, sementara tim kedua sebagai anvil melakukan flanking maneuver dari samping untuk mengepung musuh. Fase raid operation kemudian beralih ke quick hit-and-run tactics: tim memasuki area target dengan explosive breaching pada pintu, melakukan clearance room berdasarkan batas Limit of Advance (LOA) yang telah ditentukan, mengambil bukti atau menangkap target, lalu segera eksfil melalui extraction point yang sudah disiapkan.
Latihan ini juga menguji interoperability dalam aspek teknis seperti command structure, cross-loading amunisi, dan prosedur medevac antar pasukan khusus dari tiga negara. Setiap langkah dijalankan dengan disiplin tinggi untuk memastikan bahwa perbedaan bahasa, perlengkapan, dan taktik tidak menjadi penghalang di medan operasi nyata.
Pelajaran taktis yang bisa dipetik dari latihan ini adalah pentingnya sinkronisasi prosedur dan komunikasi antarpasukan khusus. Tanpa keselarasan dalam IPB, insertion, formasi gerak, dan teknik breaching, risiko kecelakaan taktis meningkat drastis. Keberhasilan operasi gabungan semacam ini bergantung pada kemampuan setiap personel untuk mengadopsi common operating picture dan bekerja dalam kerangka unified command — sesuatu yang tidak bisa dicapai tanpa latihan bersama secara rutin.